Senin, 14 Desember 2009

Ruqyah Sesuai Tuntunan Sunnah yang Benar

Ruqyah Menurut Sunnah Rosululloh .
Penyakit-penyakit yang dapat diobati dengan menggunakan ruqyah ini terutama adalah penyakit-penyakit karena pengaruh sihir (pengaruh mata [‘ain] yang jahat), penyebaran bisa racun (humah), dan luka-luka yang menjalar di sisi badan dan anggota tubuh lainnya (Namlah). Namun demikian, penyakit-penyakit lainnya (baik penyakit hati maupun penyakit badan) pada tubuh manusia, insya Alloh juga dapat diobati dengan cara ruqyah ini (Shohih: HR. Muslim, [As-Salam, XIV/185]).
Tata cara ruqyah menurut Sunnah yang diajarkan dan dicontohkan oleh Rosululloh  adalah sebagai berikut:

A. Pencegahan Pengaruh Sihir.
1. Mentauhidkan Alloh  dan mengikhlaskan semua ibadah hanya kepada-Nya saja, dan tidak boleh berbuat syirik dan bid’ah.
2. Mengusahakan semaksimal mungkin menunaikan seluruh kewajiban, meninggalkan semua larangan, serta bertaubat dari segala macam dosa yang pernah dilakukan.
3. Memperbanyak membaca Al-Qur’an, yaitu dengan menjadikannya wirid yang dibaca setiap hari (QS. Fushshilat; 42 dan QS. Al-Furqon; 33) ; dan diutamakan membaca QS. Al-Baqoroh dan QS. Ali Imron (Zahraawain) setiap hari .
4. Melindungi dan membentengi diri dengan banyak memanjat berbagai do’a, ta’awudz, serta dzikir-dzikir yang disyari’atkan Alloh  dan RosulNya  (yang shohih), seperti: dzikir-dzikir rutin setiap habis Sholat,
di antaranya:
“Subhanallohu” ( ), “Alhamdulillahi” ( ), “Allohu Akbar” ( )
(masing-masing 33 kali) ,



“Laa Ilaaha illalloohu wahdahu laa syariikalah, lahul mulku walahul hamdu wa huwa ‘alaa kulli syain qodiir”
(setiap habis sholat 1 kali atau 10 kali ), dan setiap hari 100 kali ,

QS. Al-Baqoroh; 255 - Ayat Kursi
(setiap habis sholat 1 kali) ,
                                                          
Artinya:
Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi[161] Allah meliputi langit dan bumi. dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha besar.,

dan
Dua ayat terakhir QS. Al-Baqoroh
(setiap memasuki malam hari atau sebelum tidur pada malam hari 1 kali) ,
                                                                           •           
Artinya:
Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan Kami taat." (mereka berdoa): "Ampunilah Kami Ya Tuhan Kami dan kepada Engkaulah tempat kembali. (285), Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (mereka berdoa): "Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau hukum Kami jika Kami lupa atau Kami tersalah. Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau bebankan kepada Kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau pikulkan kepada Kami apa yang tak sanggup Kami memikulnya. beri ma'aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong Kami, Maka tolonglah Kami terhadap kaum yang kafir (286).

5. (Jika memungkinkan) Hendaklah memakan 7 buah kurma (kurma Ajwah – Kurma Nabi ) pada pagi hari .
(“Barang siapa pada pagi hari memakan 7 butir dari kurma ajwah, maka sepanjang hari ia tidak akan dapat dikenai racun maupun sihir”).

B. Pengobatan Pengaruh Sihir
 Cara Pertama:
Mengeluarkan pengaruh sihir tersebut dan menggagalkannya jika diketahui tempat-tempatnya dengan cara-cara yang dibolehkan menurut syari’at Alloh  dan RosulNya  (yang shohih)
 Cara Kedua:
1. Keyakinan bahwa kesembuhan datangnya hanya dari Alloh  semata.
2. Ruqyah harus dengan Al-Qur’an, Al-Hadits (shohih/hasan), atau dengan nama dan sifat Alloh , dengan bahasa arab atau bahasa yang dapat dipahami.
3. Mengikhlaskan niat dan menghadapkan diri kepada Alloh  saat membaca (ayat-ayat Al-Qur’an) dan berdo’a.
4. Menumbukkan 7 helai daun pohon Sidr (bidara) hijau di antara 2 batu atau sejenisnya, lalu mencampurnya dengan air bersih, kemudian menyiramkan air tersebut ke atas (kepala atau tubuh yang mengalami sakit/kelainan)-nya sebanyak jumlah air yang cukup untuk mandi dan dibacakan di dalamnya beberapa do’a yaitu:
A. Ta’awudz,


“A’udzubillaahi minasy syaithoo nir rojiim”
Artinya:
Aku berlindung kepada Alloh dari gangguan setan yang terkutuk.,

B. QS. Al-Fatihah; 1-7,
                                   
Artinya:
Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang (1), Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam (2), Maha Pemurah lagi Maha Penyayang (3), Yang menguasai di hari Pembalasan (4), Hanya Engkaulah yang Kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan (5), Tunjukilah Kami jalan yang lurus (6), (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat (7).,

C. QS. Al-Baqoroh; 255,
                                                          

D. QS. Al-A’rof; 117-122,
                              •       
Artinya:
Dan Kami wahyukan kepada Musa: "Lemparkanlah tongkatmu!". Maka sekonyong-konyong tongkat itu menelan apa yang mereka sulapkan (117), Karena itu nyatalah yang benar dan batallah yang selalu mereka kerjakan (118), Maka mereka kalah di tempat itu dan jadilah mereka orang-orang yang hina (119), Dan Ahli-ahli sihir itu serta merta meniarapkan diri dengan bersujud (120), Mereka berkata: "Kami beriman kepada Tuhan semesta alam (121), “(yaitu) Tuhan Musa dan Harun" (122).,








E. QS. Yunus; 79-82,
                           •    •         •     
Artinya:
Fir'aun berkata (kepada pemuka kaumnya): "Datangkanlah kepadaku semua Ahli-ahli sihir yang pandai!" (79), Maka tatkala Ahli-ahli sihir itu datang, Musa berkata kepada mereka: "Lemparkanlah apa yang hendak kamu lemparkan." (80), Maka setelah mereka lemparkan, Musa berkata: "Apa yang kamu lakukan itu, Itulah yang sihir, Sesungguhnya Allah akan Menampakkan ketidak benarannya" Sesungguhnya Allah tidak akan membiarkan terus berlangsungnya pekerjaan orang-yang membuat kerusakan (81), Dan Allah akan mengokohkan yang benar dengan ketetapan-Nya, walaupun orang-orang yang berbuat dosa tidak menyukai(nya) (82).,

F. QS. Thoha; 65-70,
  •   •   •               •            •                           •    
Artinya:
(setelah mereka berkumpul) mereka berkata: "Hai Musa (pilihlah), Apakah kamu yang melemparkan (dahulu) atau kamikah orang yang mula-mula melemparkan?" (65), Berkata Musa: "Silahkan kamu sekalian melemparkan". Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepada Musa seakan-akan ia merayap cepat, lantaran sihir mereka (66), Maka Musa merasa takut dalam hatinya (67), Kami berkata: "Janganlah kamu takut, Sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang) (68), Dan lemparkanlah apa yang ada ditangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang mereka perbuat. "Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang" (69), Lalu tukang-tukang sihir itu tersungkur dengan bersujud, seraya berkata: "Kami telah percaya kepada Tuhan Harun dan Musa" (70).

G. QS. Al-Ikhlash,
                •  
Artinya:
Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa (1), Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu (2) Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan (3), Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia." (4).,

H. QS. Al-Falaq,
                  •         
Artinya:
Katakanlah: "Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh (1), Dari kejahatan makhluk-Nya (2), Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita (3), Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul (4), Dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki." (5).,


I. QS. An-Naas,
   ••   ••   ••    • ••   •   •   • •• 
Artinya:
Katakanlah: "Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia (1), Raja manusia (2), Sembahan manusia (3), Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi (4), Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia (5), Dari (golongan) jin dan manusia (6).,

dan

J. QS. Al-Kafirun
                  •             
Artinya:
Katakanlah: "Hai orang-orang kafir (1), Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah (2), Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah (3), Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah (4), Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah (5), Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku." (6).

(Pada dasarnya seluruh Al-Qur’an dapat digunakan untuk meruqyah, akan tetapi yang disebutkan dalil-dalilnya, tentu akan lebih berpengaruh) dan meniup anggota tubuh yang sakit .
5. Menghayati makna yang terkandung dalam bacaan Al-Qur’an dan do’a-do’a yang sedang dibacanya.
6. Orang yang meruqyah hendaknya memperdengarkan bacaan ruqyah-nya, agar penderita/pasien belajar dan merasa nyaman bahwa ruqyah yang dibacakan sesuai dengan syari’at Islam dan jangan berlebih-lebihan (QS. Al-A’rof; 55 dan 205).
7. Meniupkan pada tubuh orang yang sakit di tengah-tengah pembacaan ruqyah. Caranya dengan tiupan yang lembut tanpa mengeluarkan air ludah – “...(tiupan Nabi  saat meruqyah...seperti orang yang makan kismis, tidak ada air ludahnya yang keluar)” atau dengan mengeluarkan air ludah sedikit – “... tatkala ‘Alaqoh bin Shahhar As Salithi  meruqyah seorang gila, ia mengatakan: “membacakan QS. Al-Fatihah padanya selama 3 hari, pagi dan sore. Setiap kali aku menyelesaikannya, aku kumpulkan air liurku dan aku ludahkan. Maka seolah-olah ia lepas dari sebuah ikatan”.
8. Jika meniupkan ke dalam media yang berisi air tersebut (atau media lainnya, tidak masalah, dan media yang paling baik ditiup adalah media yang berisi minyak zaitun ).
9. Mengusapkan pada tubuh orang yang sakit dengan tangan kanannya sambil terus mendo’akannya .
10. (Bagi orang yang meruqyah dirinya sendiri) Letakkan tangan di tempat yang dikeluhkan seraya mengatakan “Bismillaah” (3 kali) , dan membaca do’a:



“A’udzubillaahi wa qudrotihi, min syarrimaa ajidu wa uhaa dzir”,
Artinya:
“Aku berlindung kepada Alloh dan kekuasannya dari setiap kejelekan yang kujumpai dan kutakuti”) ,

atau membaca do’a:

“Bismillaahi a’udzu bi’izzatillaah, wa qudrotihi, min syarrimaa ajidu miw waj’ii hadzaa”
Artinya:
Dengan Nama Alloh, aku berlindung kepada keperkasaan Alloh dan kekuasanNya dari setiap kejelekan yang aku jumpai dari rasa sakitku ini”) ,

lalu membaca do’a:


“Asalulloohul ‘adziima, Robbal ‘arsyil “adziimi, ayyasyfiyak”
Artinya:
Aku memohon kepada Alloh yang Maha Agung, agar Dia menyembuhkanku”) (7 kali) ,

dan membaca do’a:

“A’udzubikalimaa tillaahit taa~mmah, min kulli syaithoo niw wa hammah, wa min kulli ‘ainil lammah”
Artinya:
“Aku berlindung kepada kalimat-kalimat Alloh yang sempurna dari setiap setan, binatang berbisa, dan setiap mata [‘ain] yang jahat”) ,

atau membaca do’a:


“A’udzubikalimaa tillaahit taa~mah, min syarrimaa kholaq”
Artinya:
Aku berlindung kepada Alloh yang sempurna dari kejahatan makhlukNya” .

Apabila rasa sakitnya terdapat di seluruh tubuh, caranya dengan meniup kedua telapak tangan dan mengusapkannya ke wajah (yang sakit tersebut) dengan kedua tangannya.

11. Bila penyakitnya terdapat di salah satu bagian tubuh, kepala, kaki, atau tangannya misalnya, maka dibacakan pada tempat-tempat tersebut .
12. Apabila penyakit berada di sekujur tubuh, atau lokasinya tidak jelas, seperti gila, dada sempit, atau keluhan pada mata, maka cara mengobatinya dengan membacakan ruqyah di hadapan penderita .

1 komentar:

  1. pak Dokter, saya mau sharing info nih.
    Ruqyah memang mujarab untuk mengusir gangguan jin, tp kita harus mengerti bhw ruqyah bukan satu2nya cara untuk menghilangkan gangguan jin. Setidaknya ada 7 cara, dan ruqyah adalah cara yg palin keras dalam menghadapi jin.
    Kita harus mengerti bhw jin adl makhluk mukallaf seperti manusia. Setiap yg mukallaf pasti berakal, setiap yg berakal pasti berbudaya. Krn berbudaya mk ia tdk akn membiarkan makhluk lain merendahkan kaumnya.
    Adanya orng2 yg kerasukan scr massal adl bukti perlawanan bangsa jin pd manusia krn mereka g mau diusik scr serampangan.
    Org yg mengerti ruqyah scr benar akan bisa menghalau jin dari merasuki seseorang tanpa ia berpindah ke orang lain, atau bahkan ia mengundang teman2nya untuk ikut merasuki banyak orang.

    BalasHapus